Cintailah Membaca

Konten [Tampil]

 Cintailah membaca, karena ....
semakin banyak membaca, semakin banyak tempat yang kamu kunjungi, semakin sering membaca, semakin sering kamu berpetualang, semakin beragam bacaanmu, semakin beragam pula pengalaman yang kamu rasakan.
Apa yang kamu baca akan membuatmu kaya, karena apa yang kamu baca akan mengisi dirimu dengan ilmu, menambah jiwamu dengan pengetahuan, dan membuka wawasan cakrawala benakmu, seluas-luasnya!




Biarkan Si Cuwit Terbang Bebas!

Ketika liburan di rumah nenek, Cica selalu menyempatkan berjalan pagi di sekitar rumah. Udara pagi yang sejuk di kaki gunung tidak dirasakannya ketika ada di rumahnya, di Jakarta. Oleh karenanya, Cica tidak mau melewatkan kesempatan berharga tersebut. Ia selalu bangun sebelum matahari terbit. Kadang-kadang, kakek menemani Cica berjalan pagi. Tetapi hari ini kakek harus mengantar telur ayam ke pasar sehingga tidak bisa menemaninya.

Cica berjalan di antara rimbun pohon dan wangi bunga di pagi hari. Semalam hujan cukup deras, sehingga wangi daun dan tanah basah terasa sangat segar di pagi ini. Sesekali Cica berhenti memungut daun atau bunga jatuh yang bentuknya menarik. Ia suka menyimpan daun dan bunga di dalam tumpukan buku tebal. Setelah kering nanti, Cica menjadikannya pembatas halaman buku yang unik. Tiba-tiba dilihatnya seekor burung kecil mencicit di bawah pohon pinus. Mengapa ia ada di sini? Oh, kelihatannya burung itu sakit. Ia tidak bisa terbang. Sayapnya luka! Perlahan Cica mengambil burung itu dengan kedua tangannya. Ia segera pulang ke rumah nenek. Ia berjalan hati-hati. Ia takut menyakiti si burung kecil.

Sampai di rumah, Cica memanggil nenek. Ia menceritakan temuannya. Nenek mengajarkan Cica untuk membuat susunan ranting dan daun kering di teras belakang rumah. Mudah-mudahan burung kecil betah tinggal di atas ranting seperti di sarangnya. Cica memberinya nama Si Cuwit. Seharian Cica sibuk mengurus si Cuwit. Diberinya Cuwit minum, dicarikannya makanan untuk si Cuwit. Senang sekali hati Cica melihat Cuwit mau makan biji-bijian dan ulat yang dicarinya. Cica juga merawat luka di sayap Cuwit dengan hati-hati. Ia tidak ingin merusak sayap Cuwit.

Sejak hari itu Cica seperti punya teman baru. Pagi-pagi dibawanya si Cuwit dalam keranjang kecil, berjalan-jalan menikmati udara pagi. Di rumah, hari-harinya pun sibuk dengan mengurus si Cuwit. Hari demi hari, kondisi Cuwit semakin baik. Ia mulai bisa menggerakkan sayapnya. Cica senang, namun juga berdebar. Sebentar lagi liburan usai, Cica akan pulang ke Jakarta. Ingin rasanya ia membeli sangkar untuk si Cuwit, ia takut si Cuwit akan pergi. Cica takut tidak berjumpa lagi dengan si Cuwit, burung kesayangannya. Tetapi nenek mengingatkan. Rumah burung bukan di dalam sangkar. Rumah burung seharusnya di antara dahan pohon, di alam bebas. Di dalam sangkar Cica memang akan bertemu si Cuwit setiap hari. Namun mungkin si Cuwit tidak bahagia. Mungkin si Cuwit menjadi tidak sehat. Apa gunanya sayap yang bisa digerakkan bebas, jika si Cuwit tidak bisa terbang bebas di antara pohon-pohon yang tinggi?

Cica merenung. Nenek benar. Si Cuwit harus dikembalikan ke alamnya. Esok paginya Cica membawa si Cuwit ke tempat ia menemukannya minggu lalu. Diletakkannya si Cuwit di antara dahan pohon. Ia berbisik pelan. “Selamat menikmati alam bebas, Cuwit. Semoga kita bertemu lagi di sini ketika liburan mendatang, ya.” Cica pulang ke rumah nenek dengan hati lega. Ia senang. Ia telah mengembalikan kebebasan si Cuwit!
[Santi Hendriyeti]



Bunga Cantik di Taman Kota

Di akhir tahun ajaran, siswa kelas empat selalu mengadakan piknik bersama di taman dekat sekolah. Anak-anak selalu bersemangat menyambut piknik bersama. Begitu pun Tara dan teman-teman sekelasnya. Kemarin, mereka sudah membagi jenis makanan dan minuman untuk dibawa oleh tiap anak. Makanan apa pun terasa nikmat ketika disantap bersama-sama di alam terbuka.
Sungguh beruntung, di dekat sekolah memang ada taman kota yang cukup luas. Berbagai bunga ada di sana. Aneka rupa, aneka warna, semerbak pula wanginya. Oleh karenanya, selalu tampak kupu-kupu beraneka warna yang hinggap dari satu mahkota bunga ke mahkota bunga yang lain. Siapa yang tidak senang piknik di antara bunga dan kupu-kupu?

Usai menikmati makanan, Lasti, Kira dan Tara berjalan-jalan ke ujung Utara taman kota. Sambil berbincang-bincang mereka menikmati indahnya aneka bunga di sudut taman itu. Tibatiba mereka melihat sekelompok anak perempuan, kira-kira seusia dengan mereka. Kelompok anak tersebut terlihat bercandacanda sambil berjalan ke arah rumpun bunga bermahkota ungu. Lalu, salah seorang dari mereka memetik sekuntum bunga ungu, mencium wanginya, lalu membuangnya ke tanah! Kemudian mereka melanjutkan berjalan ke rumpun bunga lain, memetik sekuntum, mencium wanginya, lalu membuangnya lagi ke tanah. Mereka terus melakukannya bergantian dari satu rumpun ke rumpun lain. Wah, tidak bisa dibiarkan. Lasti, Kira, dan Tara sepakat untuk menegur anak-anak perempuan itu.

Setelah mengajak berkenalan, Tara memberanikan diri untuk menegur dengan halus. Ia mengingatkan, bunga yang cantik perlu dibiarkan untuk terus hidup di tempatnya. Boleh dinikmati rupanya, silakan dinikmati wanginya, namun tidak perlu dipetik jika tidak dibutuhkan. Apalagi lalu dibuang! Kasihan sekali! Bunga itu akan kehilangan kesempatan untuk terus berkembang biak. Bunga itu kehilangan kesempatan untuk membentuk rumpun bunga yang semakin lebat. Bukankah wanginya tetap bisa dinikmati tanpa perlu dipetik? Bukankah akan selalu indah bila bunga tetap di tangkainya? Kira dan Lasti juga sesekali menambahkan. Teguran yang serius namun tetap bersahabat.
Kelompok anak perempuan itu tidak membantah. Mereka memang tidak berniat jahat. Mereka hanya tidak berpikir panjang. Mereka baru sadar bahwa apa yang mereka lakukan akan mengancam kelangsungan hidup bunga-bunga cantik di taman kota. Bunga-bunga cantik akan selalu ada, bila manusia membiarkannya hidup pada tempatnya.
[Santi Hendriyeti]


Sudah lama Wuli ingin punya kelinci. Entah kenapa, ia suka sekali melihat kelinci putih yang lucu melompatlompat. Apalagi ketika melihat telinga kelinci yang bergerak-gerak. Menggemaskan! Wuli bahkan sudah membaca berbagai artikel dan buku mengenai perawatan kelinci. Ia ingin menyiapkan diri. Siapa tahu, suatu hari nanti Ibu mengabulkan keinginannya.

Betapa senang hati Wuli ketika Kakek datang membawa dua ekor kelinci kecil berwarna putih. Ya, untuk Wuli! Kakek memang sangat sayang pada Wuli. Ia juga tahu bahwa Wuli sudah belajar banyak tentang merawat kelinci. Kakek menganggap Wuli sudah cukup besar, dan sudah siap merawat kelincinya sendiri.

Kiki dan Lala, begitu Wuli menamai kelincinya. Kiki dan Lala dibuatkan rumah sendiri oleh Mang Asep di halaman belakang. Pagi hari, Wuli akan membukakan pintu rumah mungil tersebut, dan membiarkan Kiki dan Lala bermain bebas sebentar di halaman. Sebelum berangkat ke sekolah, Wuli menyiapkan biji jagung, kedelai atau kacang tanah serta umbiumbian yang dihaluskan untuk mereka makan. Wuli memasukkan Kiki dan Lala ke rumah mungilnya, sebelum ditinggalnya ke sekolah. Nanti, pulang sekolah, kedua kelinci itu akan bermain lagi di halaman belakang bersama Wuli. Di malam hari, sebelum tidur, Wuli menyiapkan makanan berupa seikat wortel, kangkung atau sawi untuk Kiki dan Lala. Kelinci aktif di malam hari. Oleh karenanya perlu menyiapkan porsi makanan yang lebih banyak di malam hari. Begitu menurut buku yang pernah dibaca Wuli.

Kiki juga pernah sakit. Kasihan sekali! Wuli pun dengan sabar merawatnya. Memberinya vitamin yang diperolehnya dari teman ibunya, seorang dokter hewan. Senang sekali hati Wuli ketika Kiki sehat kembali dan lincah bermain bersama Lala. Wuli memang sudah siap memelihara kelinci. Ia bahkan membersihkan sendiri rumah kelinci-kelincinya. Ia tahu bahwa tidak nyaman bagi Kiki dan Lala jika rumah mungil mereka kotor dan lembap. Oleh karenanya, Wuli meminta Mang Asep membuat rumah mungil di bagian halaman yang terkena sinar matahari pagi. Semua sudah dipikirkan oleh Wuli. Terlihat sekali Kiki dan Lala senang dan sehat tinggal bersama Wuli.

Memelihara hewan memang menyenangkan, walaupun tidak mudah. Wuli harus siap bertanggung jawab dan siap melimpahkan kasih sayang.
[Santi Hendriyeti]

Kerja Bakti di Kebun Kelas

Di sekolah Dira, tiap kelas memiliki sepetak kebun kelas. Jenis tanaman yang dipelihara di kebun kelas disepakati bersama oleh semua siswa di kelas. Dira dan teman-temannya sepakat untuk memiliki sepetak kebun sayur. Mereka berdiskusi dengan Pak Wira, guru kelas mereka untuk menentukan jenis sayur yang dapat mereka pelihara bersama. Mereka pun memutuskan untuk memelihara tanaman sayur bayam dan kangkung. Selain cukup mudah dalam pemeliharaannya, masa tanam hingga panen untuk kedua jenis sayur ini cukup singkat. Kurang lebih 3-4 minggu mereka sudah dapat menikmati hasil panennya.

Semua siswa di kelas membawa satu buah pot untuk diletakkan di kebun kelas. Bibit kangkung dan bayam dicarikan oleh Pak Wira. Semua siswa melakukan penanaman mandiri, yang didampingi oleh Pak Dudi, tukang kebun sekolah. Cukup mudah cara menanamnya. Setelah itu, Dira dan teman-teman membuat jadwal piket pemeliharaan. Mereka mengatur sendiri agar semua siswa memperoleh jadwal penyiraman. Pagi dan sore, setiap hari! Ya, setiap sore pun ada siswa yang harus datang kembali ke sekolah untuk menjalankan tugas menyiram tanaman. Di hari Sabtu dan Minggu pun ada siswa yang bergiliran datang untuk menyiram. Begitupun jadwal pemberian pupuk. Mereka mengaturnya sendiri. Semua siswa harus terlibat dalam mengelola kebun kelas.

Seminggu setelah ditanam, ternyata tanaman bayam dan kangkung yang mulai meninggi kering kerontang terkena panas matahari yang menyengat. Dira dan teman-teman sempat sedih. Namun, Pak Dudi dan Pak Wira mengingatkan mereka untuk tetap bersemangat. Memelihara tanaman memang sesekali akan menemui masalah, namun mereka harus belajar dari masalah yang ditemui, jangan mudah menyerah. Dira dan teman-teman kembali membangun semangat. Mereka melakukan penanaman ulang, memelihara lagi dari awal.

Sebulan kemudian mereka memetik hasilnya. Kangkung dan bayam di kebun kelas tumbuh subur, hijau segar. Panen sayur dilakukan bersamasama oleh Dira dan teman-temannya. Ibu Dira dan ibu-ibu yang lain datang di hari panen. Mereka membantu Dira dan teman-teman memasak sayur bayam dan tumis kangkung untuk dimakan bersama. Berbeda rasanya, makan sayur hasil panen dari kebun sendiri. Berbeda rasanya makan sayur hasil kerja bakti di kebun kelas.

[Santi Hendriyeti]


Bakal Buah Perlu Dijaga


Pohon mangga di depan rumah Kakek Topo terlihat sangat menggoda mata. Bakal-buah hijau mungil mulai banyak bergelantung di dahandahan. Sungguh menggoda! Namun, memang belum dapat dinikmati. Belum cukup besar, belum cukup matang.

Sore hari, ketika tiba waktu anak-anak bermain sepeda, pohon mangga tersebut sering menjadi sasaran keisengan anak-anak. Seperti sore itu. Ketika Kakek Topo sedang bersantai minum teh di teras depan, dilihatnya sekelompok anak bersepeda melompat-lompat di bawah pohon mangga. Mereka memetik bakal-bakal buah yang masih mungil itu! Tidak hanya satu. Banyak! Malah ada seorang anak yang membawa kantung plastik untuk menampung hasil petiknya.

Wah! Kakek Topo bergegas ke depan rumahnya. Tidak lantas diusirnya anak-anak itu, namun ia mengajak mereka mengamati bakal buah yang sudah mereka petik. “Lihatlah, perhatikanlah.” katanya. “Bakal buah ini belum menjadi buah yang matang, yang bisa kamu makan. Untuk apa kalian ambil? Hanya untuk mainan masak-masakan, atau malah hanya untuk main timpuk-timpukan?” Kakek Topo bertanya lembut. Anak-anak itu diam tak menjawab. Sesungguhnya benar yang diduga Kakek Topo, mereka mengambilnya untuk bermain masak-masakan dan bermain adu lempar.

Melihat tak ada jawaban, Kakek Topo menambahkan. “Jika saja bakalbakal buah ini kalian diamkan di tempatnya, di dahan tempatnya bergantung, ia akan berkembang menjadi besar, semakin besar, akhirnya siap dipetik dan siap dinikmati. Pasti enak rasanya. Aku merasakannya setiap tahun. Manis!” kakek Topo berbicara terus, sambil memegang beberapa bakal buah yang terlanjur dipetik.
“Nanti, setelah kamu makan daging buah mangga yang manis itu, kamu bersihkan bijinya, lalu....,kamu tanam lagi di tempat yang kamu suka. Sabarlah menanti. Beberapa tahun kemudian kamu akan melihat sebatang pohon mangga yang sama besarnya dengan pohon mangga ini. Pohon mangga itu juga akan memberikan buah yang sama enaknya dengan buah mangga di pohon ini. Percayalah!” Kakek Topo terus saja berbicara. Ia tahu, anak-anak itu mendengarkan dengan saksama, walaupun terlihat agak takut. Mereka takut Kakek Topo marah.

Namun, Kakek Topo tidak ingin marah. Ia ingin anak-anak itu belajar. Maka ia pun terus berbicara. “Hitung saja, berapa banyak bakal buah yang sudah kalian petik. Artinya, berapa banyak calon pohon mangga yang tidak jadi tumbuh dan berkembang? Sayang ‘kan? Jangankan berpikir pohon mangga. Buah mangga manis yang sebentar lagi dapat dinikmati pun berkurang jumlahnya karena terlalu cepat dipetik.”

“Lain kali berpikir bijak sebelum bertindak, ya. Kakek yakin, kalian sudah belajar di sekolah mengenai tumbuh kembang tanaman.

Jadi, seharusnya kalian sudah mengerti dan hanya perlu diingatkan oleh Kakek.” Kakek Topo menutup nasihatnya dengan senyum. Lalu ia pun kembali masuk ke rumahnya.

Lalu, anak-anak itu mengayuh sepedanya pelan, menjauh dari pohon mangga. Kakek Topo tersenyum mengamati dari teras rumah. Ia yakin, dalam perjalanan pulang anak-anak itu akan mengingat terus pesannya. Jika tadi Kakek Topo hanya marah dan mengusir mereka, besok mereka akan kembali lagi untuk melakukan hal yang sama. Tetapi, Kakek Topo tadi hanya mengingatkan. Bakal buah perlu dijaga, agar nanti menjadi buah yang dapat dinikmati. Bakal buah perlu dijaga, agar kelak menjadi pohon yang berbuah lebat lagi.
[Santi Hendriyeti]



0 komentar:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel