Pendidikan di Finlandia

Malam sobat guru semua.... kali ini enyongguru tertarik membahas tentang sistem Pendidikan di Finlandia. Setelah membaca berbagai artikel dan informasi tentang pendidikan di Finlandia rasanya ingin mengulas banyak tentang sistem pendidikan disana.Kalau saja sistem tersebut bisa di terapkan di Indonesia. Pertanyaan enyongguru Apakah sistem Pendidikan di Finlandia Bisa diterapkan di Indonesia? Sebelum  kita membahas jawaban dari pertanyaan diatas ayo kita coba lihat seperti apa sebenarnya Finlandia?Kita tulis satu persatu dari berbagai informasi yang enyongguru dapatkan. Semoga sumber-sumber tersebut benar dalam menginformasikan.Kita akan bahas tuntas tentang Finlandia dan Pendidikan di Finlandia.

FINLANDIA
Coba kita lihat posisi secara geografis dan jumlah penduduk Finlandia.


Sebelah Timur : Berbatasan dengan Rusia
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Teluk Finlandia
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Swedia
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Norwegia
Luas Wilayah 338.424 km
Jumlah penduduk resmi Finlandia di Tahun 2017 dalam hitungan resmi yaitu 5.550.943 penduduk urutan 114 dari 257 negara
Jika di bandingkan jakarta data tahun 2015 berdasarkan kemendagri sebesar 9.988.495. Ternyata lebih banyak jakarta secara jumlah penduduknya.

Sekarang kita lihat Prestasi Finlandia berdasarkan Peringkat Internasional. Berdasarkan data dari wikipedia bisa kita lihat, tenyata peringkat negara ini banyak menduduki peringkat atas tingkat Internasional, Baik indek ketahanan nasional, kebebasan pers dan lainya.
Kita Lihat sob Indeks pendidikan Finlandia dilihat dari Ranking PISA ( Programme for International Student Assessment ) lihat Grafiknya saja :
Sejak awal PISA dirilis pada tahun 2000, Finlandia telah berhasil mencuri perhatian dunia dengan menduduki peringkat 1 di bidang membaca, peringkat 4 di bidang sains, dan peringkat 5 di bidang matematika bersaing ketat dengan negara Asia dan Barat lainnya. Di pelaksanaan PISA pada tahun-tahun berikutnya, Finlandia semakin tidak terbendung terus meransek mengokohkan posisinya di puncak sebagai negara dengan pendidikan terbaik. Hasil PISA tahun 2003 menjadi puncak kejayaan pembuktian bagi Finlandia dengan capaian peringkat 1 untuk sains dan membaca dan peringkat 2 untuk matematika. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dicapainya di PISA 2006. Sejak itu dunia berbondong-bondong meneropong dan menilik ‘resep rahasia’ Finlandia dalam sistem pendidikannya. Intensitas berbagai studi, kunjungan, dan aktivitas akademik lainnya yang menjadikan sistem pendidikan Finlandia sebagai objeknya semakin tinggi. Hasilnya berbagai publikasi karya tulis ilmiah mengenai pendidikan Finlandia laris manis di banyak negara. Banyak lembaga pendidikan bahkan negara juga yang terinspirasi untuk menerapkannya. ( Info dari : https://www.kompasiana.com )

Seperti apa pendidikan di " Finlandia" jika kita bandingkan di Indonesia dan apa kata para ahli, dan gagasan Penulis melihat dari perbandingan dan uraian para ahli :


A. Anak - anak di Finlandia Baru di perkenankan masuk ke Sekolah Dasar setelah berumur 7 tahun. Jika dibandingkan di Negara kita, beberapa sekolah masih fleksibel memperbolehkan anak yang belum berumur 7 tahun umtuk masuk ke Sekolah Dasar. Enyong guru tertarik mengulas masalah ini. Apa si pentingnya sekolah harus tujuh tahun? Apa dampaknya kalau tidak Tujuh tahun ? dan apakah boleh jika belum berumur tujuh tahun memasuki sekolah dasar ?


Kita akan ulas dari  pertanyaan pertama mengapa sekolah harus berumur tujuh tahun apa hal tersebut sangat penting ? Pada usia 7 tahun , konsep moral anak tidak lagi sesempit dan sekhusus sebelumnya. Antara usia 7-12 tahun, konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar-salah (yang dipelajari dari orangtua) menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Menurut Piaget, “relativisme moral menggantikan moral yang kaku”.Tinjauan (Piaget) Anak berusia antara 7-11 tahun berada dalam tahap konkret operasional, yang ditandai dengan penalaran induktif, tindakan logis, dan pikiran konkret yang reversible.Karakteristik spesifik tahapan ini antara lain  1. Transisi dari egosentris ke pemikiran objektif (yaitu:melihat dari sudut pandang lain, mencari validasi, bertanya). 2. Berfokus pada kenyataan fisik saat ini disertai ketidakmampuan melihat untuk melebihi kondisi saat ini. 3. Kesulitan menghadapi masalah yang jauh, masa depan atau hipotesis. 4. Perkembangan berbagai klerifikasi mental dan aktivitas yang diminta. 5. Perkembangan prinsip konservasi (yaitu:volume, berat, massa, dan angka). Dalam segi Bahasa 1. Anak mengembangkan pola artikulasi orang dewasa formal pada usia 7-9 tahun. 2. Anak belajar bahwa kata-kata dapat dirangkai dalam bentuk terstruktur. 3. Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan paling penting yang dikembangkan oleh anak. ( Sumber  : deraisy-blogdhede). Dan dari informasi yang enyong guru dapat dari okezone(dot)com pertanyaan diatas juga bisa kita jawab. “Kenapa sih anak yang sekolah dasar harus usianya 7 tahun?”.Dari pertanyaan tersebut perlu diketahui bahwa yang perlu dipersiapkan pada anak yang akan memasuki sekolah dasar adalah kematangan secara fisik dan psikis.Pada usia 7 tahun, anak dianggap paling siap secara fisik maupun psikis. Untuk diam di kelas sampai siang, sudah siap. Pada usia tersebut, gerakan motorik anak sudah lebih bagus, otot dan sarafnya juga sudah terbentuk. Untuk memegang pensil misalnya, anak sudah lebih mampu dibandingkan anak umur tiga tahun yang masih suka gemetar jika harus menulis sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Sementara usia kurang dari 6 tahun terkadang kurang tepat, karena anak-anak usia ini masih suka bermain.

Dalam teori perkembangan, anak sudah mulai bisa berkonsentrasi dengan baik adalah usia diatas 6 tahun. Semakin bertambah usianya, kemampuan konsentrasi akan meningkat, selain itu anak juga semakin mampu memilah milah materi mana yang harus diperhatikan dan materi mana yang harus diabaikan. Rentang konsentrasi untuk usia sekolah biasanya sekitar 30-45 menit. Hal ini dapat dilihat dari konsentrasi cukup tinggi pada anak yang terlibat dalam aktivitas yang dilakukannya, karena mereka sudah memiliki semangat berkompetisi yang tinggi dan rasa ingin tahu yang besar.

Anak yang terlalu dini masuk SD masih bermasalah khususnya di kelas satu, karena ia belum siap untuk belajar berkonsentrasi, karena ia masih sedang mengembangkan keteram­pilan geraknya. Akibatnya dia akan sulit berkonsentrasi, meskipun secara kemampuan intelektualnya dia sudah cukup mampu menyelesaikan soal-soal yang disediakan.


Usia yang disarankan masuk sekolah 7 tahun itu merupakan usia rata rata anak sesuai pertumbuhan dan perkembangan. Namun kadang tidak semua anak punya perkembangan intelektual yang ‘normal’ atau rata-rata. Ada anak ‘gifted’ atau ‘talented’ - yaitu dikaruniai kecerdasan atau bakat luar biasa- yang tingkat intelektualitasnya jauh melampuai anak-anak lain seusianya. Sayangnya, kadang anak gifted ini baru diketahui setelah ia masuk SD. Jadi kalau mengetahui anak yang berpotensi “gifted” atau “talented” sebaiknya di tes perkembangannya. Meskipun usia masih 5 tahun namun usia perkembangannya setara dengan anak 7 tahun maka anak tersebut masih layak untuk mulai disekolahkan.

Jadi  sebagai orang tua  wajib mempertimbangkan sudah layakkah anak kita masuk SD? Kalau memang belum siap baik karena umur  ataupun yang lainnya, kenapa sih tidak bersabar menunggu  satu tahun. Atau tetap mau memaksa anak kita masuk SD, tergantung pihak  orang tua yang akan menentukan pilihannya  dan akan menuai hasil dari pendidikan anak. 


Dari uraian diatas sebenarnya kita sudah menerapkan cara seperti yang finlandia lakukan, akan tetapi jika disana benar benar menerapkan secara total akan tetapi di Indonesia masih Fleksibel dengan berbagai pertimbangan. Tapi dari informasi yang enyong guru dapatkan memang besar dampaknya untuk perkembangan anak jika kita benar - benar menerapkan sistem umur untuk bisa masuk ke Sekolah Dasar. Tapi kendala di Sekolah sekolah kadang orangtua belum bisa menerima sampai ke hal-hal seperti itu. Mereka beranggapan bahwa anak mereka sudah mampu, padahal sebenarnya mereka sedang memaksa anak - anak mereka untuk bisa berfikir satu atau dua tingkat diatas umur normal mereka.Alhasil rasa jenuh anak akan dirasakan di kelas - kelas atasnya dan ditandai dari malas belajar, keterlambatan belajar dan lain-lain. Dan kadang sekolahpun sama demi menambah jumlah siswanya sekolah tetap menerima anak-anak dibawah umur yang sudah ditetapkan demi menambah jumlah siswanya padahal tindakan tersebut justru akan menurunkan kualitas sekolah tersebut di beberapa tahun kedepan walau secara kuantitas mereka naik tapi secara kualitas mereka akan turun.Itu anggapan enyongguru saja.hehehe koreksi kalau salah. wah ternyata malah panjang membahas di Indonesia ketimbang finlandia. hehehe oke kita balik lagi ke Finlandia ya....

B. Di Finlandia Sedikit ujian dan tidak ada PR yang membenani, Para siswa mandiri dan berfikir cermat ( dan bagaimana dengan di Indonesia )
Di Finlandia satu guru mengajar 12 anak wah mantap juga. kesempatan anak-anak berinteraksi dengan gurunya berarti akan lebih besar dan guru bisa lebih mengenal lebih dalam tentang karakteristik siswanya. kalau di Indonesia beragam di Daerah / didesa-desa dengan populasi penduduknya besar dan jumlah sekolahnya sedikit maka setiap tingkatan kelas berisi lebih dari 25 siswa bahkan bisa mendekati 40 siswa dan diajar oleh satu orang guru. dan kadang guru tidak bisa secara penuh menjangkau semua siswa dan didaerah tertentu / di desa - desa dengan populasi sedikit dan jumlah sekolah yang banyak maka akan kita dapati mirip dengan Finlandia sob hehehe akan tetapi kadang menjadi tamparan besar bagi sekolah seakan sekolah tidak mampu merekrut murid hehehe....wah berarti kuantitas kadang di tempat kita lebih diutamakan. Tapi banyak juga yang sudah menerapkan batas maksimal jumlah siswa di kelas, Tetapi di Indonesia juga kadang kesulitan jika meniru cara seperti Finlandia karena terbatasnya jumlah Guru dan tidak meratanya guru di setiap daerah.Menurut enyong guru sistem seperti ini bisa dimulai dari daerah - daerah dengan kebijakan Kepala-kepala daerah melalui dinas terkait mengenai pembatasan jumlah siswa di kelas atau menentukan batas maksimal di kelas khususnya Sekolah Dasar.

Finlandia tidak mengenal Ujian Nasional. Dan tidak ada tes wajib bagi siswa hingga usia 17-19 tahun. Gurulah yang melakukan penilaian kepad siswa-siswanya. Penilaiannyapun tidak untuk bahan menentukan kelulusan atau naik tidak naik bagi siswa-siswanya, melainkan  memperoleh informasi untuk peningkatan pembelajaran bagi siswanya. Di Finlandia tidak ada Pekerjaan rumah bagis siswa-siswanya.

Kalau di bandingkan Indonesia, Kita masih menggunakan Ujian Nasional dan Begitu banyak Tes, ulangan Harian dan PR yang menumpuk. Tapi Apa si alasan Finlandia seperti itu ???
Dari informasi yang enyong guru dapatkan dari kompas(dot)(com) yang mengupas tentang buku " Teach Like Finland" karangan mantan guru ( AS ) yang bernama Timothy D. walker yang mengajar di Sekolah Dasar Finlandia dalam bukunya menuliskan bahwa Pendidikan di Finlandia sangat memperhatikan kesejahteraan ( Well-being ) baik bagi siswa maupun gurunya.Baik kesejahteraan Fisik maupun batin setiap Individu. Terbukti dari kebijakan bagi siswa - siswanya. Siswa di Finlandia gemar memanfaatkan waktu rehat untuk bermain dan kejar-kejaran bahkan setiap sekolah menyediakan alat bermain.Para siswa diminta bergabung di sebuah klub minat dan sekolah di finlandia meminta para muridnya untuk bisa bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalnya. Sekolah di Finlandia total jam sekolah rata-rata hanya 18 jam / minggu dari waktu itu maka siswa mempunyai waktu bersosialisasi di rumah begitu besar dan waktu bermain lebih panjang.

Menurut beberapa artikel di Finlandia tidak ada PR akan tetapi "Timothy " mengungkapakan seperti yang ditulis kompas bahwa itu adalah mitos yang terlanjur populer dan menurut Tim ( sapaan Timothy ) itu tidak benar. Kata Tim Finlandia tetap memberikan PR akan tetapi Pekerjaan rumah yang diberikan sangat-sangat mempertimbangkan dan memperhitungkan tingkat kesulitanya.Para guru di Finlandia memberikan PR tidak berat bahkan bisa dikerjakan begitu cepat kurang dari 30 menit, Para guru di Finlandia sangat mempertimbangkan waktu istirahat yang cukup bagi anak dan waktu bermain mereka. Siswa SD di Finlandia berangkat dan pulang sekolah sendirian dengan menggunakan kereta atau bus sekolah maka dari kemandirian tersebut siswa secara otomatis bisa berfikir secara cermat dan bahkan menembus batasnya. Sekolah dan Masyarakat di Finlandia menurut Timothy benar - benar mengupayakan secara maksimal untuk kemandirian para siswanya. Keberhasilan sekolah di Finlandia menurut Tim adalah di sekolah dasar mereka benar-benar mengajarkan hal-hal yang sangat mendasar bagi siswanya dan sangat menyatu dengan alam sekitarnya.

Bagaimana dengan Sekolah Dasar di Indonesia?
1. PR sama masih ada akan tetapi kadang PR menjadi beban bagi para siswanya dengan jumlah PR yang banyak dengan alasan supaya anak lebih banyak berlatih di rumah, kadang juga sampai orangtua meminta agar PR untuk anaknya ditambah. Sebenarnya beberapa pengawas di beberapa daerah mungkin secara luas juga sama kadang mereka menyarankan agar tidak membebani siswanya dalam masalah Pekerjaan Rumah. Orangtua juga kadang merasa kerepotan dengan PR anaknya sebab materi yang dirasa terlalu tinggi untuk anak-anak di Sekolah Dasar karena mereka membandingkan dengan Sekoalh Dasar di jamanya. Menurut kalian sebagai pembaca sebaiknya bagaimana?? Memilih PR yang banyak dan sulit atau PR yang mudah dan tidak membebani ??

2. Jam sekolah di Indonesia Rata-rata 24 jam / mingu untuk sekolah dasar 

3. Secara kemandirian siswa di Indonesia. Tidak bisa di ukur secara keseluruhan karena untuk Sekolah Dasar di Indonesia ada yang jaraknya dekat dengan lingkungan mereka da yang memilih berekolah jauh dari lingkungan mereka denga  alasan mencari Sekolah Favorit. Serta sistem transortasi yang belum bisa kita samakan antara Finlandia dan Indonesia jika dilihat dari sisi transortasi. Akan tetapi ada banyak sekolah di Desa-desa di Indonesai yang orangtua nya melatih para anaknya untuk benar-benar mandiri baik keberangkatan dan lainya. 

Dari kompas(dot)(com) Bab terakhir buku  karya Timothy berjudul unik: Jangan Lupa Bahagia! Ini merupakan tips pamungkas di penghujung buku. Tim hendak menggarisbawahi bahwa esensi pendidikan yang sewajarnya berjalan seiring dengan prinsip universal hidup bagi masing-masing orang. Kebahagiaan diberi tempat yang utama dalam kurikulum di Finlandia. Orang Indonesia tentu sering mendengar banyak orang tua atau guru yang tergoda untuk "mencambuk" anak sendiri untuk bisa menguasai banyak hal di luar kemampuannya. Anak-anak pun bekerja dengan tanpa henti, belajar dengan tergesa-gesa. Akibatnya apa? Pendidikan berjalan dengan terpaksa sebab lebih seperti sebuah siksaan. Pendidikan menjadi tidak menyenangkan. Ya, di Finlandia sistem pendidikan yang membahagiakan menjadi fokusnya. Anak yang gembira mempelajari banyak hal dengan enteng.

C.Guru Di Finlandia berkualitas Tinggi dan Inspirasi untuk guru di Indonesia
Moh. Pandoyo, S.Si dalam tulisanya yang berjudul SDM Guru Di Finlandia menuliskan bahwa kunci utama dalam tingginya kualitas pendidikan di Finlandia adalah terletak pada kualitas gurunya. Perguruan Tinggi pendidikan diisi oleh lulusan terbaik dari sekolah menengah di Finlandia. Guru di Finlandia merupakan lulusan terbaik dari perguruan tinggi. Guru di Finlandia merupakan guru dengan kualitas terbaik dan pelatihan terbaik, Profesi guru sangat dihargai dan sangat profeisonal bahkan setara dengan profesi dokter, ahli farmasi, dan lain – lain. Melalui kompetensi para guru, kualitas pendidikan di Finlandia terjaga dan menjadi pendidikan yang terbaik di dunia.Guru kompeten menjadi salah satu latar belakang suksesnya pendidikan di Finlandia. Guru – guru di Finlandia merupakan guru dengan kualitas terbaik dan mendapatkan pelatihan yang terbaik. Guru-guru di sekolah negeri Finlandia mendapatkan pelatihan khusus untuk dapat menilai siswa satu kelas menggunakan tes independen yang mereka ciptakan sendiri. Setiap anak mendapatkan kartu rapor tiap akhir semester, tetapi rapor ini berdasarkan penilaian individu oleh tiap guru. Secara berkala, Menteri Pendidikan memantau kemajuan nasional dengan menguji beberapa sampel kelompok dari sekolah yang berbeda. Sistem ini memungkinkan dihasilkannya penilaian yang sangat spesifik ke kemampuan tiap individu anak. Bukan sistem penilaian umum yang mungkin kurang dapat menjangkau kemampuan spesifik tiap anak. Guru dapat mengeluarkan kreativitasnya untuk memberikan perhatian khusus ke tiap anak. Guru jadi punya tanggung jawab dan peran yang lebih besar.
Lulusan sekolah menengah terbaik pada umumnya mendaftar di universitas yang membuka pendidikan dan tahu fakultas keguruan. Persaingan untuk dapat diterima di fakultas pendidikan jauh lebih ketat dibanding dengan fakultas bergensi seperti kedokteran dan teknik. Kualitas calon guru yang berasal dari siswa terbaik, dididik oleh perguruan tinggi yang bagus serta didukung oleh pelatihan profesi yang memadai maka akan menghasilkan kualitas guru yang terbaik. Semua guru di Finlandia harus memiliki gelar master, yang sepenuhnya disubsidi. Guru dipilih dari 10% lulusan terbaik universitas. Di Finlandia hanya ada 11 univeristas yang memiliki program pendidikan. Jumlah kredit pendidikan guru di universitas 160 sks termasuk studi pedagogik 35 sks, sedangkan guru TK berjumlah 120 sks. Ada program magang mengajar selama satu tahun penuh mengajar di sekolah yang bekerjasama dengan universitas tempat siswa kuliah. Tes internasional dilakukan untuk guru pendidikan di Finlandia.Guru merupakan profesi yang sangat dihargai. Guru dipandang sangat populer karena status yang terhormat di masyarakat. Guru secara efektif diberi status yang sama seperti dokter dan pengacara sehingga merupakan profesional dalam bidangnya. Gaji awal rata-rata untuk seorang guru Finlandia adalah $ 29,000 pada tahun 2008, Dibandingkan dengan $ 36,000 di Amerika Serikat. Guru sekolah lanjutan tahun pertama gaji minimal $ 34,707  dan gaji paling tinggi $ 54, 181.
Menurut pandoyo dalam tulisanya menyebutkan.
Inspirasi dari Guru Finlandia untuk Globalisasi Pendidikan Indonesia
Guru merupakan motor penggerak kurikulum dalam pembelajaran kepada peserta didik. Diantara inspirasi yang bisa kita ambil dari guru Finlandia adalah :
  1. Guru harapan bukan guru ancaman
Guru memberikan harapan dengan memberi penilaian yang komprehensif sehingga menimbulkan kepercayaan diri kepada peserta didik dan selalu meningkatkan penampilannya di penilaian berikutnya. Ketika peserta didik mendapatkan nilai yang buruk mengakibatkan rasa percaya diri yang memudar dan mematikan kreativitas.
  • Guru inspirasi bukan guru konspirasi
Guru inspiratif adalah bukan mereka yang hanya mampu memberikan pemahaman akan suatu ilmu yang diajarkan melainkan juga mampu mengajak anak didik menemukan jati dirinya sehingga menjadi pribadi yang lebih manusiawi dan sadar tanggungjawab hidupnya. Inilah misi profetik agung bagi seorang guru yang dituntut untuk terus menerus menginspirasikan anak didiknya menemukan makna hidup dan akhirnya menciptakan perubahan. Guru memberikan inspirasi kebaikan kepada peserta didik sebagaimana inspirasi bapak guru Baliem, guru SMA Manggar Belitung yang menyebabkan Andrea Hirata mempunyai mimpi belajar ke Sorbonne, Prancis. Sebagaimana inspirasi yang diberikan KH Ahmad Dahlan dalam memberikan pelajaran kepada santri santrinya sehingga lahirlah Muhamadiyah di Yogyakarta tahun 1912. Inspirasi yang diberikan kepada peserta didik merupakan inspirasi kebaikan, apalagi sekolah islam maka guru harus memberikan inspiratif untuk akhirat yang kekal di masa datang. Sebagaimana Rasululloh saw memberikan inspirasi tentang kemenangan umat islam di dunia dan berita gembira surga di akhirat kepada sahabatnya. Kita tidak seharusnya menjadi guru konspirasi yang selalu tidak mempercayai kemampuan peserta didik apabila meraih nilai yang baik.
  • Guru pembelajar bukan guru pasif
Guru memanfaatkan waktu untuk mengembangkan diri dalam profesional. Guru sebagai profesi menjadikan guru harus selalu belajar baik dalam institusi formal berupa sekolah pasca sarjana (S2) maupun mengikuti pelatihan/ workshop yang mengembangkan kemampuan dirinya. Guru membuka diri terhadap perkembangan ilmu baru maupun peratutan kementrian pendidikan dan kebudayaan yang baru sehingga selalu up to datedan tidak ketinggalan jaman.Bukan budaya guru yang baik kalo masih memiliki sifat pasif, tidak mau bergerak terhadap perubahan jaman karena hakikatnya yang tidak berubah itu adalah perubahan itu sendiri.
  • Guru peduli bukan guru acuh
Guru memberikan kepedulian kepada peserta didik dalam perhatian yang penuh dengan harapan pesert didik merasa sebagai anak sendiri dan menganggap guru sebagai orang tua sendiri di sekolah sehinggan timbul budaya menghormati kepada guru. Perhatian penuh diberikan kepada seluruh peserta didik tanpa membedakan dan memberikan kasih sayang kepada mereka tanpa pilih kasih. Guru mengetahu detil, terinci tentang sifat, karakter, hobi, kebiasaan dan tindakan dalam keseharian pesera didik dan dimasukkan ke dalam buku progress report perkembangan peserta didik sebagai portofolio guru kelas/wali kelas. Keacuhan guru terhadap peserta didik hanya menimbulan gap/ batas jurang pemisah antara guru dan peserta didik.
  • Guru pemecah masalah bukan guru pembuat masalah
Guru memberikan pembelajaran berbasis masalah sehingga peserta didik mengalami pengalaman belajar sendiri dan berusaha menyelaikan maslah yang dihadapi sehingga memicu kreativitas peserta didik. Guru tidak perlu terlalu banyak ceramah dikelas sehingga lebih mengedepankan pembelajaran proses dan kontain. Desain pembelajaran dibuat sedemikian rupa sehingga peserta didik menghasilkan kreativitas dalam pemecahan masalah dalam kehidupan. Konsep kelembutan berbalut ketegasan menjadi kunci dalam pembelajaran kepada peserta didik. Jangan menjadi guru yang membuat masalah dengan peserta didik sehingga hanya menimbukan pemisah antara guru dan peserta didik.
Semoga kita bisa menerapkan inpirasi dari guru di Finlandia
KESIMPULAN
  1. Sembilan kunci sukses pendidikan di finlandia, kesempatan yang sama, pendidikan yang komprehensif, guru yang kompeten, pendidikan berkebutuhan khusus dan konsultasi spesial, sistem penilaian, komunitas pendidikan, pemberdayaan sistem yang fleksibel, kerjasama dan orientasi kepada murid dan pembelajaran aktif
  2. SDM guru di Finlandia dengan seleksi ketat, lulusan terbaik univesitas, mendapat pengakuan sosial baik di masyarakat, minimal master, mempunyai kemampuan pedagogik yang baik, bebas menentukan metode dan strategi mengajar buat siswa, memperlakukan siswa sesuai kemampuan, membantu siswa yang lambat, mengembangkan profesional, menilai siswa sesuai kemampuan, tidak banyak memberikan pekerjaan rumah atau tugas, tidak membuat rangking, memberikan bimbingan intensif kepada siswa.
  3. Inspirasi dari SDM Guru Finlandia adalah (1) Guru harapan bukan guru ancaman, (2) Guru inspirasi bukan guru konspirasi, (3) Guru pembelajar bukan guru pasif, (4) Guru peduli bukan guru acuh, (5) Guru pemecah masalah bukan guru pembuat masalah. Sumber : mohpandoyo(dot)wordpress(dot)com)

 D.sekolah sepenuhnya didanai negara
Semua sekolah di Finlandia didanai oleh negara. Dengan begitu, sistim pendidikan Finlandia membuka ruang-ruang selebar-lebarnya bagi setiap warga negaranya untuk bisa mengakses pendidikan terbaik dan berkualitas.
Selain mensubsidi penuh sekolah-sekolah, negara juga memberikan makan siang, layanan kesehatan dan angkutan umum gratis untuk pelajar.
E. Guru diberi otonomi dalam mengajar
Finlandia punya standar nasional yang mirip dengan Common Core State Standards. Namun, guru sepenuhnya diberi kebebasan membuat kurikulum sendiri dan menerjemahkan standar itu.
Profesi guru di Finlandia sangat terhomat. Seleksi untuk menjadi guru sangat ketat. Hanya mereka yang menempati peringkat 10 persen teratas yang bisa mendaftar sebagai guru.
Selain itu, guru di Finlandia hanya mengajar selama 4 jam perhari. Kemudian selama 2 jam mereka mengembangkan kurikulum dan menilai kemajuan siswa.
F. Tidak ada kompetisi
Sistim pendidikan Finlandia tidak mengenal kompetisi dan sistim peringkat. Tidak ada persaingan antar sekolah. Tidak ada istilah guru terbaik. Semua didorong bekerjasama satu-sama lain untuk kemajuan pendidikan.
Jadinya, tidak ada istilah sekolah unggulan, sedang yang lain buruk. Di Finlandia, semua sekolah harus maju dan berkembang. Dan yang lebih penting, tidak ada istilah “siswa bodoh”.
G. Berbasiskan kesetaraan
Dengan sokongan negara yang sangat kuat untuk pendidikan, termasuk mendanai seluruh sekolah, Finlandia bisa mewujudkan slogan “pendidikan untuk semua”.
Segregasi sosial berhasil dihindarkan berkat tidak adanya pengistimewaan terhadap anak-anak dari kalangan tertentu melalui sekolah-sekolah elit. Juga tidak ada kompetisi yang mendikomoti sekolah unggul dan buruk, anak pintar dan tidak pintar, kaya dan miskin, dan lain-lain.
H. Serikat guru yang kuat
Guru-guru di Finlandia sangat terorganisir. Menurut New York Times, 95 persen guru Finlandia bergabung dalam serikat. Dan mereka bersedia menyerahkan 1,2 persen dari gajinya untuk mendanai serikat.
Serikat inilah yang menjadi alat guru-guru untuk memperjuangkan hak-haknya, seperti gaji, tunjangan dan lain-lain. Serikat juga menjadi corong untuk menyuarakan persoalan pendidikan.
I. Metode pengajaran yang inovatif
Sekarang ini Finlandia sedang menjalankan revolusi metode pengajaran, yakni mulai menggantikan metode konvensional “mengajar dengan subjek” menjadi “mengajar dengan topik/fenomena”.
Dalam metode lama, siswa belajar dengan satu subjek tertentu per mata pelajaran, seperti sejarah, geografi, fisika, matematika, bahasa dan lain-lain. Dalam metode yang baru, pengajaran berbasiskan topik atau fenomena, pelajar akan belajar banyak subjek sekaligus. Sebagai misal, topik tentang Uni Eropa, di dalamnya ada soal sejarah, geografi, bahasa dan ekonomi.
Itulah ulasan yang enyongguru comot sana sini dan ditambah beberapa pendapat enyongguru dan masih banyak lagi tentang Finlandia akan tetapi rasa kantuk dan lelah mebuat tulisan ini dan comotan ini terhenti hehehe ulasan ini hanya untuk motivasi dan pengetahuan buat kita saja. Dari uraian diatas menurut enyongguru sistem pendidikan di Finlandia tidak bisa diterapkan di seluruh indonesia akan tetapi bisa diterapkan didaerah daerah dengan lingkup kabupaten dengan otonominya.Itupun diambil cara-cara yang bisa diterapkan saja artinya diambil yang bisa daerah terapkan. 
sumber :
( life(dot)idntimes(dot)com ; warungkopi(dot)okezone(dot)com ; edukasi(dot)kompas(dot)com ;tirto(dot)id 
berdikarionline(dot)com; mohpandoyo(dot)wordpress(dot)com )
Comments
0 Comments

Belum ada Komentar untuk "Pendidikan di Finlandia "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel